Megadewa88portal,Jakarta – Manchester United sedang menghadapi masa sulit di bawah asuhan manajer Rúben Amorim. Sejak ditunjuk pada November 2024, performa tim belum menunjukkan perbaikan signifikan. Dengan hanya 31 poin dari 31 pertandingan, United menempati posisi terbawah di antara 17 klub Premier League yang konsisten, membuat banyak penggemar khawatir akan nasib tim kesayangan mereka.

Situasi ini semakin diperburuk dengan kekalahan telak 3-0 dari rival sekota, Manchester City, serta kekalahan memalukan dari tim League Two Grimsby di Piala EFL. Bahkan kemenangan tipis atas Burnley tak mampu mengangkat moral tim. Rekor kemenangan Amorim saat ini hanya 36,2% dari lebih 25 pertandingan, rekor terburuk bagi manajer permanen United sejak Perang Dunia II.

Taktik yang Dipertahankan Meski Hasil Buruk

Meskipun tekanan terus meningkat, Amorim tetap mempertahankan formasi 3-4-3 yang di usungnya. Ia menegaskan tidak akan meninggalkan filosofi permainannya kecuali di paksa, meskipun hasil yang di raih tim sangat mengecewakan. Banyak pengamat menilai strategi ini terlalu kaku dan tidak adaptif terhadap lawan, sehingga membuat United rentan di setiap pertandingan.

Kritik semakin deras karena United kini hanya mengoleksi empat poin dari empat pertandingan awal Premier League musim ini, menandai awal terburuk mereka sejak musim 1992–93. Pemain dan staf pun harus menghadapi tekanan mental yang besar. Karena publik menilai tim seperti tim yang akan degradasi, padahal reputasi dan sejarah United jauh dari posisi tersebut.

Amorim juga mendapat sorotan karena sulitnya tim mencetak gol dan kebobolan terlalu mudah. Kurangnya kreativitas di lini tengah dan pertahanan yang mudah ditembus membuat performa tim semakin terpuruk. Media dan penggemar terus mempertanyakan apakah Amorim mampu membawa perubahan signifikan atau hanya menjadi manajer jangka pendek yang gagal.

Baca Juga : Derby Liga Inggris, Man City Bungkam MU, Haaland Borong Brace

Meski begitu, dewan klub masih memberikan dukungan penuh pada Amorim, berharap ia mampu memperbaiki performa tim di sisa musim. Namun, tekanan besar dari publik dan media akan menjadi ujian terbesar bagi manajer asal Portugal ini.